Logo Itu Bukan Brand — Tapi Nganggep Logo Nggak Penting Itu Ngawur

Gue yakin, lo pernah denger kalimat :
“Brand itu bukan logo.”
Terus lo langsung ngerasa anzay, misterius bingits ya brand itu...

Jujur, gue nggak suka kalimat ini. Karena kalimat itu lebih banyak bikin blundernya.
Akhirnya banyak orang yang ke gue dengan logo yang, aduh.. maap maap, sakit mata gue.

Wkwkw. becanda masnya mbaknya!
*ciumsatusatu

Pas gue bertanya dengan nada sopan tentunya
“Nganu Mbak, Mas, Logonya kok, gitu ya?”
Terus responnya kurang lebih gini
"Kenapa Mbak? Emangnya ngaruh ya...?"
Yah. Yaudah. Panjang sekali perjalanan kita.

Dari situ bisa kelihatan saat logo diperlakukan kayak:
  • formalitas
  • tempelan
  • “yang penting ada dulu lah”

Padahal... logo itu bukan sekadar gambar.
Logo itu simbol.

Dan manusia…
hidupnya nggak pernah jauh-jauh dari simbol.

Kenapa Simbol Itu Penting Buat Manusia?
Kenapanya banget, sejujurnya gue nggak tau... semacam udah begitu lah manusia diciptakan.
Yang jelas, justru simbol adalah pembeda antara manusia dengan spesies lainnya.
Mungkin tanpa simbol, kita nggak beda jauh sama gorila.

Entah ya, siapa yang ngide kalo nikah harus pakai cincin sebagai tanda.
Yang jelas, cincin nikah jadi sakral dan nggak bisa disebut cuma cincin doang.

Untung juga sih, pakenya cincin. Nggak ribet. Kalo tanda nikah pake tali pinggang, agak ribet memang.

Semua itu simbol.

Dan logo? Ya, itu simbol yang dipakai brand buat hadir di kehidupan sosial manusia.
Jadi memikirkan logo dengan seksama... adalah hal penting.

Logo Itu Bahasa, Tapi Bahasa yang Nggak Ngomong

Di ilmu tanda (semiotika), logo itu bukan dinilai dari “bagus atau nggak”, tapi dari apa yang dia katakan tanpa kata-kata.

Logo ngomong lewat:
  • bentuk
  • warna
  • garis
  • komposisi
Dan ini lucunya: orang mungkin nggak bisa jelasin, tapi tubuh mereka ngerti. Makanya ada logo yang bikin:
“kok nggak sreg ya…”

Secara Psikologi: Logo Kerja Duluan, Logika Nyusul

Otak manusia itu males mikir. Yang cepet nyala duluan itu visual. Ya, logo lo adalah visual utamanya.

Artinya: sebelum orang baca penjelasan panjang lo, sebelum ngerti positioning lo, sebelum paham value proposition… logo lo udah ninggalin kesan.
Ninggain Rasa.

Mungkin

Rasa aman. Rasa ragu. Rasa “kok kayak abal ya”. Rasa “wah ini kayaknya serius”.

Dan rasa pertama itu... sekali nyantol, susah diubah.

Makanya ada produk yang:
  • biasa aja tapi kerasa mahal
  • bagus tapi susah dipercaya
Jawabannya sering bukan di produknya. Tapi di rasa awal yang dibentuk logo.

Secara Sosial: Logo Itu Bawa Kelas dan Posisi

Saat brand lo sudah dijalankan, segala kesan yang sudah brand lo tinggalkan, ya... ditampung oleh si logo.
Itu kenapa logo bisa dimaknai sebagai :
  • status
  • kelas sosial
  • aspirasi
Makanya:
  • ada logo yang dipamerin
  • ada logo yang ditutupin
  • ada logo yang bikin orang ngerasa “gue belum levelnya”
Jadi waktu orang beli produk, yang dibeli bukan cuma fungsi, tapi juga posisi diri di mata lingkungan.

1. Bentuk Dasar

Ini bukan soal selera desain.
  • Bulat → aman, ramah, kebersamaan
  • Kotak → stabil, rapi, bisa diandalkan
  • Segitiga → agresif, progres, ambisi
Lo nggak bisa bilang:
“brand gue hangat dan manusiawi”
kalau bentuknya tajem-tajem. Kaku banget.

Tubuh orang nangkep kontradiksinya.

2. Garis & Sudut

Garis itu bahasa tubuh logo.
  • lurus → tegas, rasional, dingin
  • melengkung → lembut, emosional
  • tajam → konfrontatif, berani
Kadang orang bilang:
“gue nggak tau kenapa, tapi kok kayak dimarahin ya.”
Padahal nggak ada kata apa-apa. Itu garis yang ngomong.

3. Warna

Warna itu emosi instan.
  • hitam → kuasa, jarak, eksklusif
  • putih → bersih, kosong, jujur
  • merah → energi, urgensi
  • biru → aman, stabil
  • hijau → natural, seimbang
Salah warna itu bukan salah selera. Tapi salah rasa.

4. Huruf (Kalau Ada)

Huruf juga punya sikap.
  • serif → mapan, tradisional
  • sans-serif → modern, efisien
  • handwritten → personal, intim
Lucu aja kalo brand bilang:
“kami dekat dengan manusia”
tapi hurufnya dingin kayak laporan keuangan.

Jadi, Brand Bukan Logo Itu Maksudnya Apa Sih?

Yang lebih jujur tuh sebenernya gini:
Brand memang lebih besar dari logo. Tapi logo adalah pintu masuk paling awal ke rasa brand.
Ngeremehin logo itu sama aja kayak:
  • ngeremehin kesan pertama
  • ngeremehin simbol
  • ngeremehin cara kerja manusia
Padahal brand hidupnya di manusia, bukan di deck presentasi.

Penutup (Santai Aja)

Logo nggak bakal nyelametin produk jelek. Tapi logo yang salah bisa bikin produk bagus jadi susah dipercaya. Logo itu bukan segalanya. Tapi juga nggak pernah cuma gambar. Dia salam pertama. Rasa pertama. Dan sering kali… penentu apakah orang mau lanjut atau minggir pelan-pelan. Udah. Segitu dulu. Ngopi lagi.
Social Media
Dilarang
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi konten yang ada di website ini tanpa izin tertulis dari Indah Jiwandono
dibuat denganberdu
@2026 indahjiwandono Inc.